Kamis, 19 Juli 2012

Artikel 1

By: Nandi Saefurrohman


Biasanya orang menilai keindahan suatu karya seni berdasarkan ciri-ciri  yang mampu menunjukan bahwa karya seni tersebut memiliki kwalita (sifat) indah atau tidak indah. Dalam sejarah teori keindahan seni dikenal  –setidak-tidaknya–  ada tiga ciri yang dapat menuntun apakah suatu benda estetis dapat dikatakan  indah atau tidak, bahwa karya seni harus memiliki  kesatuan (unity), kerumitan (complexity), dan  kesungguhan (intensity). [1]  Begitu juga   di masyarakat karawitan Jawa dan Sunda terdapat beberapa kriteria atau perangkat penilaian yang hampir sama mengenai kualitas sebuah penyajian gamelan (gendhing), misalnya  sebuah penyajian akan dikatakan baik seandainya memenuhi tuntutan estetis rampak dan rempeg.[2] Konsep-konsep tersebut menjadi penting keberadaannya karena oleh masyarakat sering dijadikan parameter dan rujukan yang menentukan dalam menilai baik dan buruk, indah dan tidak indah suatu karya seni baik seni visual maupun seni pertunjukan, dan biasanya ukuran-ukuran tersebut menjadi mapan sebagai suatu kesepakatan (konvensi) yang berlaku di masyarakat.
 Keindahan itu menurut Immanuel Kant dapat diperlihatkan oleh benda-benda yang ditampilkan atas dasar konsep tertentu yang mengikat (dependent beauty), atau bisa juga  keindahan dilihat tanpa harus terikat (free beauty) kepada konsep tentang perfeksi (kesempurnaan).3  Ketika keindahan seni dipandu atau atas dasar suatu konsep, dan konsep keindahan tersebut tidak mungkin hadir dengan begitu saja tanpa ada kriteria-kriteria yang melandasinya, maka kita perlu juga memahami dan mengetahui dari mana, karena apa, serta apa yang menjadi acuan/landasannya sehingga konsep-konsep dan kriteria-kriteria itu muncul dan diperlukan.
Kajian ini mencoba untuk menemukan, menjelaskan, serta menganalisis konsep-konsep lokal keindahan seni  tembang Sunda Cianjuran yang kemungkinan besar telah dirumuskan, dibentuk, dan disepakati bersama oleh masyarakat pemiliknya, berdasarkan kriteria-kriteria yang muncul dan dipakai sebagai ukuran dalam menilai tingkat kualitasnya.
Pada awalnya tembang Cianjuran diciptakan oleh para bangsawan (menak)  Cianjur, dan hanya disajikan dalam lingkungan pendapa kabupatian saja. Namun dalam perkembangan selanjutnya, Cianjuran menyebar dan digemari oleh masyarakat Jawa Barat, khususnya oleh kalangan menengah dan atas. Kenapa demikian, ada beberapa alasan, salah satunya mungkin karena syairnya (rumpaka/guguritan) tidak begitu mudah untuk dapat dimengerti dengan bentuk musik (vokal) yang cenderung rumit dibandingkan dengan jenis karawitan lain,4 dan kelihatannya hanya mereka-mereka dari kalangan tersebutlah yang betul-betul  mendalaminya dengan sungguh-sungguh. Bagi masyarakat Jawa Barat, tembang Cianjuran  dipandang sebagai  kesenian yang menghadirkan totalitas keindahan sebuah karya seni tradisional yang  memiliki citra keluwesan dan keanggunan. Pandangan seperti ini tampaknya dilandasi oleh penafsiran umum bahwa tembang Cianjuran adalah seni yang selalu terkait dengan pencitraan kaum ningrat Sunda, yang dalam pandangan sebagian masyarakat Jawa Barat pencitraan tersebut masih melekat dalam status sosial, adat-istiadat dan kebiasaan sehari-harinya, sehingga keberadaan para menak Sunda dianggap masih mempunyai legitimasi tersendiri dalam kontek sosial budaya masyarakat Sunda saat ini.  Kaum ningrat Sunda identik dengan sosok yang mempunyai kehalusan karakter, kelembutan sikap, keluwesan bertutur kata, ketertiban dalam bertindak, disiplin, cendekia, selalu berbusana perlente (rapih dan bersih), tidak kekurangan dalam segi ekonomi,  serta segala sesuatu yang berhubungan dengan cita-rasa estetis kelompok masyarakat bangsawan pada umumnya.
Tembang Cianjuran digolongkan sebagai karawitan yang halus (lemes) baik dilihat dari aspek sastra maupun aspek musikalnya. Kalau dilihat dari sudut pandang sebagai seni musik, tembang Sunda Cianjuran  memiliki bobot musikal yang tinggi dengan lagu-lagu yang berat dan serius, selain itu dalam hal menyajikannyapun bagi seorang juru mamaos tidak hanya dituntut hanya menguasai lirik dan musiknya saja, namun lebih dari itu ia harus mampu menyentuh batin pendengarnya.5 Lagu-lagunnya bersifat ‘ngagalindeng’ (mendayu-dayu, mengalir) menggambarkan suasana hati  dalam untaian suara/nada yang penuh ornamen.6 Kehalusannya kemungkinan besar sangat terkait dengan prilaku, cara berbicara, serta bahasa sehari-hari orang Cianjur yang  oleh para ahli bahasa dipandang mempunyai dialek dan tutur kata paling terhalus dari tiga tingkatan (undak-usuk) berbahasa Sunda: lemes, sedeng dan kasar, dan masyarakat Cianjur dalam bertutur katanya dikenal dengan dialek dan tutur kata yang lentong.7
Dalam prakteknya, penilaian tentang baik-buruk atau indah dan tidak indah sebuah penyajian tembang Cianjuran sangat tergantung pada persoalan teknis bernyanyi (berolah vokal) juru tembang, yang mencakup pengolahan unsur-unsur musikal seperti nada, irama/ritme, melodi, dinamika, disertai dengan pemahaman terhadap karakteristik/watak lagu dan teknik pelapalan sastra atau bahasa nyanyian. Maka dengan strategi seperti inilah kemungkinan besar sebuah lagu Cianjuran dapat memenuhi atau memiliki kwalita (sifat) keindahan yang kemudian akan ditangkap dan dirasakan oleh penikmatnya. 
Urang Sunda nu mikaresep, mikanyaah, jeung mikacinta seni balarea sok mindeng nyebutkeun yen tembang Cianjuran teh leubeut ku kaendahan keur didengekeun jeung kaendahan keur pangupaya jiwa, ngariksa tur ngalemeskeun rasa, asal anu nembangna nyaho kana selah-selah jeung titincakan dina nyoarakeunana nu aya patula-patalina jeung ugeran-ugeran ngalagu, utamana dina ngeuyeuban papaesna” (Orang Sunda yang menyenangi, menyayangi, dan mencintai seni tradisi sering menyebutkan bahwa tembang Cianjuran itu kaya dengan keindahan untuk didengarkan dan keindahan untuk memelihara jiwa, menjaga serta menghaluskan perasaan, asalkan penembangnya mengetahui pedoman dan langkah-langkah (teknik) bernyanyi terutama dalam memperkaya hiasannya/ornamentasi).8

Sesorang ketika tengah menyimak sebuah penyajian tembang Cianjuran, akan merasakan kesan estetis lagu jika lagu tersebut memenuhi beberapa kriteria penilaian, seperti lagu harus bersifat ngagalindeng dan ngagerendeng9, ngaranggeuy, ngaruntuy dan ngarambat10, nyurup dan nyora11. Namun demikian kriteria-kriteria tersebut dianggap bersifat tidak tetap dan temporer, artinya dalam mengamati suatu penyajian tembang Cianjuran tidak semua orang menggunakan kriteria-kriteria tersebut karena sangat tergantung pada asumsi setiap penikmat dalam melihat situasi dan suasana yang bagaimana penyajian itu berlangsung. Selain itu dalam berbagai situasi dan suasana penyajian adakalanya seorang penikmat kerap memunculkan kriteria-kriteria  menurut pemahamannya sendiri.
Apabila ditelaah, kriteria-kriteria tersebut di atas terkait dengan kecermatan dan cara-cara teknis juru tembang dalam mengolah lagu. Maka sebenarnya dalam mengukur tingkat keindahan sebuah lagu tembang Canjuran, salah satunya terletak pada bagaimana seorang juru tembang mampu melakukan dan menguasai cara-cara teknis dengan baik berdasarkan kriteria-kriteria yang sudah ada dan untuk selanjutnya akan mengarahkan pada pembentukan konsep-konsep keindahan. Dengan demikian konsep keindahan (estetik) muncul tidak hanya sekedar hasil dari proses mental audiens yang cenderung bersifat subjektif dan beragam, namun karena ada proses pengolahan dan pembentukan secara teknis yang dilakukan juru tembang secara selektif, mapan, dan terarah. Dalam konteks ini hasil dari proses tersebut dengan sendirinya akan melekat pada objek (tembang), sehingga kemungkinan besar sebuah lagu akan dinilai ‘indah’ karena memang objeknya dirasa benar-benar memenuhi  maksud dari kriteria-kriteria keindahan.
Sementara itu keindahan sebuah lagu Cianjuran akan menjadi subjektif ketika pikiran dan perasaan seseorang secara ketat sedang memberikan tanggapan-tanggapannya (penilaian estetik) berdasarkan pengalaman, pengetahuan, serta interpretasi dirinya terhadap bentuk, karakter, unsur-unsur, dan struktur musik/lagu yang diamatinya. Maka dalam keindahan subjektif, ukuran atau kriteria biasanya dibentuk oleh penikmat dalam kapasitasnya sebagai pribadi yang melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan konsep dan pengkriteriaan yang berlaku umum, dengan selalu mempertanyakan apakah nyanyian itu selaras, harmonis, enak didengar, dan sebagainya, atau bahkan sebaliknya tidak memberikan makna apa-apa yang dapat menyentuh perasaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar